Sabtu, 19 Mei 2012

perubahan sosial menurut para ahli


makalah ini ketika saya semester 8 pada mata kuliah selekta Sosiologi
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Perubahan Sosial
Para sosiolog maupun antropolog telah banyak mempersoalkan mengenai pembatasan pengertian perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan. Dengan demikian pengertian perubahan sosial yaitu:
1.      Wiliam Ogburn menyatakan bahwa ruang lingkup perubahan sosial mencakup, unsur-unsur kebudayaan baik yang bersifat materiil maupun yang tidak bersifat material (Immateriil) dengan menekankan pengaruh yang besar dari unsur-unsur kebudayaan yang materiil terhadap unsur-unsur immateriil.[1]
2.      Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakay. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalistis, menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dan majikan yang kemidian menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi politik.[2]
3.      Gillin-Gillin mengartikan perubahan sosial sebagai, suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, disebabkan baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi maupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat tersebut.[3]
4.      Selo Soemardjan menyatakan perubahan sosial adalah, segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola peri kelakuan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.[4]
Perubahan sosial tidak berarti kemajuan, tetapi dapat pula kemunduran, meskipun dinamika sosial selalu diarahkan kepada gejala transformasi (pergeseran) yang bersifat linier. Sebagai contoh hancurnya peradaban Yunani dan Kerajaan Majapahit dimasa silam. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia dimana perubahan-perubahan tersebut memengaruhi segi-segi lain dalam struktur masyarakat. Hal ini erat sekali dengan asal mula perubahan sosial itu sendiri, dimana perubahan soaila ada yang direncanakan, yaitu melalui program pembangunan, dan perubahan sosial yang tidak terencana, seperti bencana alam dan peperangan.

B.  Pola Perubahan Sosial
Ada pun pola perubahan sosial sebagai berikut:[5]
1.      Pola Linear
Pemikiran mengenai pola perkembangan linear dapat ditemukan dalam karya Comte. Menurut Comte kemajuan progresif peradaban manusia mengikuti suatu jalan yang alami, pasti, sama, dan tidak terelakan. Dalam teorinya yang dikenal dengan nama “Hukum Tiga Tahap,” Comte mengemukakan bahwa sejarah memperlihatkan adanya tiga tahap yang dilalu peradaban, dapat disebut juga hukum urutan perkembangan masyarakat yang dimaksud: hukum fundamental perkembangan pemikiran manusia, yakni tingkat teologis (khayalan), tingkat metafisik(abstrak), dan tingkat ilmiah (positivis).[6] 
Pada tahan pertama yang diberi nama tahap teologis dan militer, Comte melihat bahwa semua hubungan sosial bersifat militer, masyarakat senantiasa bertujuan mendudkan masyarakat lain. Semua konsepsi teoritik dilandasi pada pemikiran mengenai kekuatan-kekuatan adikodrati. Pengamatan dituntun oleh imajinasi, penelitian tidak dibenarkan.
Tahap kedua, tahap metafisik dan yuridis, merupakan tahap antara yang menjembatani masayrakat militer dengan masyarakat industry. Pengamatan masih dikusai imajinasi tetapi lambat laun semakin merubahnya dan menjadi dasar bagi penelitian.
Pada tahap ketiga dan terakhir, tahap ilmun pengetahuan dan industri mendominasi hubungan sosial dan produksi menjadi tujuan utama masyarakat. Imajinasi telah digeser oleh pengamatan dan konsepsi-konsepsi teoritik telah bersifat positif.
2.      Pola Siklus
Menurut pola kedua, pola siklus, masyarakat berkembang laksana suatu roda; kadang kali naik keatas, kadang kala turun kebawah. Contoh yang dikemukakan Etzion-Halevy dan Etzioni ialah karya Oswald Spengler dan Vilfredo Pareto. Pandangannnya bahwa kebudayaan tumbuh, berkembang dan pudar laksana perjalanan gelombang, yang muncul mendadak, berkembang dan kemudian lenyap; ataupun laksana tahap perkembangan seseorang manusia melewati masa muda, masa dewasa, masa tua, dan akhirnya punah.
3.      Gabungan Beberapa Pola
Max Weber merupakan tokoh sosiologi klasik lain yang menurut Etzioni-Halevy dan Etzioni menghasilkan teori yang berpola siklus. Pemikiran Weber yang dinilai mengandung pemikiran siklus ialah pembedanya antara tiga jenis wewenang: karismatik, rasional-legal dan tradisional. Weber melihat bahwa wewenang yang ada dalam masyarakat akan beralih-alih bahwa wewenag karismatika akan mengalami rutinisasi sehingga beralih menjadi wewenang tradisional atau rasional-legal; kemudian akan muncul lagi wewenag karismatik, yang diikuti dengan rutinitas, dan seterusnya. Dipihak lain, weber melihat adanya perkembangan linear dalam masyarakat, yaitu semakin meningkatnya rasionalitas.

C.  Beberapa Bentuk Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat dibedakan kedalam beberap bentuk:
1.      Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat
Perubahan sosial dapat dikatakan terjadi secara lambat (Evolusi) hanya apabila dilihat dari waktunya. Biasanya waktu perubahan ini terjadi secara lambat, memerlukan rentetan perubahan kecil secara lamban yang ditunjukan oleh sikap dan perilaku masyarakat yang menyesuaikan dirinya dengan adanya pergeseran sosial sesuai dengan keperluan, keadaan, dan kondisi yang baru dan sejalan dengan adanya proses pertumbuhan masyarakat.[7] Rentetan perubahan-perubahan tersebut, tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyrakat yang bersangkutan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi, pada umumnya dapat digolongkan kedalam beberapa kategori sebagai berikut:[8] 
a)      Unlinier Theories of Evolution
Teori ini berpendapat bahwa manusia dan mastarakat (termasuk kebudayaan ) senantiasa mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk kehidupan sederhana kebentuk kehidupan yang sempurtna (kompleks). Pelopor teori ini adalah August Comte, Herbert Spencer, yang kemudian dikembangkan oleh Vilfredo Pareto dalam teori Siklus (cyclical theory).
b)      Universal Theory of Evolution
Menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidaklah perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Teori ini mengemukakan bahwa kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi yang tertentu. Prinsip-prinsip teori ini diuraikan oleh Herbert Spencer yang natara lain menyatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen baik sifat maupun susunannya.
c)      Multilined Theories of Evolution
Teori ini lebih menekankan pada penelitian-penelitian terhadap perkembangan hal tertentu dalam evolusi masyarakat, misalnya mengadakan penelitian perihal pengaruh perubahan sistem pencaharian dari sistem berburu kesistem pertanian, terhadap sistem kekeluargaan dalam masyarakat yang bersangkutan dan seterusnya. Akan tetapi, dewasa ini agak sukar menentukan apakah suatu masyarakat berkemabang melalui tahap-tahap tertentu. Kesulitan ini bersumber dari kepastian tahap yang telah dicapai dewasa ini, apakah merupakan tahap yang terakhir atau justru sebaliknya.

Perubahan secaara cepat (Revolusi) akan terjadi pada sendi-sendi atau dasar-dasar pokok dari kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan revolusi.[9] Unsur-unsur pokok dari revolusi yaitu adanya perubahan secara cepat pada sendi-sendi atau dasar-dasar pokok dalam kehidupan masyarakat. Didalam revolusi perubahan-perubahan terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu  maupun terjadi tanpa perencanaan. Sebenarnya ukuran kecepatan suatu perubahan yang dinamakan revolusi sifatnya relatif sebab revolusi dapat memakan waktu yang lama. Suatu revolusi dapat berlangsung dengan didahului pemberontakan (revol, rebellion) yang kemudian menjelma menjadi revolusi.
2.      Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
Perubahan-perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Perubahan mode pakaian, misalnya, tak akan membawa pengaruh bagi apa-apa bagi masyarakat dalam keseluruhannya, karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Sebaliknya, suatu proses industrialisai yang berlangsung pada masyarakat agraris, misalnya, merupakan perubahan yang membawa pengaruh besar pada masyarakat. Pelbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan akan ikut terpengaruh misalnya hubungan kerja, sistem milik tanah, hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat dan seterusnya.
3.      Perubahan yang Dikehendaki (intended-change) atau Perubahan yang Direncanakan (planned-change) dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki (unintended-change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan (unplanned-change).
Perubahan yang dikehendaki atau rencanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan didalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan  dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial. dalam melaksanakan, agent of change langsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan. Bahkan mungkin meyiapkan pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan selalu berada dibawah pengendalian serta pengawasan agent of change tersebut. Cara-cara mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau seringpula dinamakan perencanaan sosial (social planning).
Perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan, merupakan perubahan –perubahan yang terjadi tanpa dikehendak, berlangsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial  yang tidak diharapkan masyarakat. Apabila perubahan yang tidak dikehendaki berlangsung bersamaan dengan suatu perubahan yang dikehendaki, maka perubahan tersebut mungkin mempunyai pengaruh yang demikian besarnya terhadap perubahan-perubahan yang dikehendaki. Dengan demikian keadaan tersebut tidak mungkin diubah tanpa mendapat halangan-halangan masyarakat itu sendiri. Atau dengan perkataan lain, perubahan yang dikehendaki diterima oleh masyarakat dengan cara mengadakan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada. Atau, dengan cara membentukyang baru. seringkali terjadi bahwa perubahan yang tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling pengaruh-mempengaruhi.

D.  Teori-teori Modern Mengenai Perubahan Sosial
Diantara teori-teori  klasik dan teori-teori modern kita dapat menjumpai benang merah sebagaimana halnya dengan pandangan mengenai perkembangan masyarakt secara linear yang dikemukan  oleh tokoh klasik seperti Comte dan Spencer, maka teori-teori modernisasi pun cenderung melihat bahwa perkembangan masyarakat dunia ketiga berlangsung secara evolusioner dan linear dan bahwa masyarakat bergerak kearh kemajuan dari tradisi kemodernitas. Para penganut teori konflik, dipihak lain, melihat bahwa perkembangan yang terjadi di Dunia Ketiga justru menuju keterbelakangan dan pada ketergantungan pada Negara-negara industry maju dibarat. Adapun teori-teroi modern mengenai perubahan sosial, sebagai berikut:[10]
  1. Teori Modernisasi
Teori modernisasi mengangap bahwa Negara-negara terbelakang akan menempuh jalan yang sama dengan negara industri maju di Barat sehingga kemudian akan menjadi Negara berkembang pula melalui proses modernisasi. Teori ini berpandangan bahwa masyrakat-masyarakat yang belum berkembang perlu mengatasi berbagai kekurangan dan masalahnyasehingga dapat mencapai tahap “Tinggal Landas”  (Take -off) kearah perkembangan ekonomi.
  1. Teori Ketergantungan
Menurut teori ketergantungan (Dependencia) yang didasarkan pada pengalaman Negara-negara Amerika Latin ini perkembangan dunia tidak merata; Negara-negara industry menduduki posisi dominan sedangkan Negara-negara dunia ketiga secara ekonomis tergantung padanya. Perkembangan Negara-negara industry dan keterbelakangan Negara-negara dunia ketiga menurut teori ini, berjalan bersamaan: dikala Negara-negara industry mengalami perkembangan, maka Negara-negara dunia Ketiga yang mengalami Kolonialisme dan neo-kolonialisme, khususnya di Amerika Latin, tidak mengalami “Tinggal Landas”  tetapi justru menjadi semakin terbelakang.
  1. Teori Sistem Dunia
Menurut teori yang dirumuskan Immanuel Wallerstein ini, perekonomian kapitalis dunia kini tersusun atas tiga jenjang: Negara-negara inti, Negara semi Periferi, dan Negara Periferi. Negara-negara ini terdiri atas Negara-negara Eropa Barat yang sejak abad 16 mengawali proses industrialisasi dan berkembang pesat, sedangkan Negara-negara semi Periferi merupakan Negara-negara kawasan di Eropa Selatan yang menjalin hubungan dagang Negara-negara inti dan secara ekonomis tidak berkembang. Negara-negara periferi merupakan kawasan asia dan afrika yang semula merupakan kawasan ekstern karena berada diluar jaringan perdagangan Negara-negara inti tetapi kemudian melalui kolonisasi ditarik kedalam system dunia.
Kini Negara-negara inti mendominasi system dunia sehingga mampu memanfaatkan sumber daya Negara lain untuk kepentingan mereka sendiri, sedangkan kesenjangan yang berkembang antara Negara-negara inti dengan Negara-negara lain sudah sedemikian lebarnya sehingga tidak mungkin tersusul lagi.

E.  Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial
Untuk mempelajari perubahan masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, karena adanya suatu yang dianggap sudah tidak lagi memuasakan. Ada juga faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpakas demi menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-daktor lain yang sudah mengalami perubahan terlebih dahulu.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sebab-sebab tersebut sumbernya ada yang terletak didalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya diluar. Sebab-sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri, antara lain adalah:[11]
  1. Bertambah atau berkurangnya penduduk
Hal yang menonjol yaitu perubahan pada system kepemilikan tanah. Bertambahnya penduduk akan mempengaruhi penyempitan areal tanah, sedangkan berkurangnya penduduk akan berdampak pada perluasan areal tanah. Kondisi ini pada gilirannya akan menimbulkan perubahan pada system agrarian.
  1. Penemuan-penemuan baru
Munculnya penemuan-penemuan baru dipicu oleh beberapa hal, diantaranya:
a)      Adanya kesadaran diri dari setiap individu atau kelompok orang akan kekurangan dalam kebudayaannya. Kesedaraan akan kurangnya kebudayaan yang ada pada kelompok masyarakat ditandai dengan adanya sikap yang memandang kebudayaan kelompok lain lebih baik dari kebudayaan yang ada pada kelompoknya.
b)      Kualitas para ahli dalam suatu kebudayaan. Dunia pendidikan telah mengantarkan pola-pola pemikiran manusia sehingga melalui dunia pendidikan manusia memiliki wawasan teknologi yang akan membawa perubahan disegala bidang kehidupan.
c)      Perangsang bagi aktifitas pennciptaan dalam masyarakat. Rangsangan bagi penemuan-penemuan baru seperti hak cipta, hadiah nobel, dan berbagai penghargaan lain baik yang berup material maupun spiritual telah banyak mendorong manusia terutama melalui kualitas Sumber Daya Diri (self power) untuk menentukan metode-metode baru dalam masyarakat.
  1. Pertentangan atau konflik dalam masyarakat
Konflik sosial merupakan pertentangan yang terjadi dalam masyarakat yang heterogen atau masyarakat majemuk yang merupakan bagian dari dinamiaka sosial. Konflik sosial diawali oleh perbedaan-perbedaan kepentingan, pemikiran, dan pandangan yang ditemukan dalam satu wadah. Sebagai gambarana dari interaksi yang merupakan hubungan timbal balik antara aksi dan reaksi, maka aksi dan reaksi ini menghasilkan produk-produk sosial tertentu.
  1. Terjadinya pemberontakan atau revolusi didalam tubuh masyarakat itu sendiri
Negara rusia berubah menjadi Republik dengan nama baru, yaitu United Soviet Socialis Republic, sebuah Negara besar yang berbentuk serikat. Dalam revolusi ini terjadi perubahan yang cukup besar dalam struktur sosial seperti lembaga-lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk Negara hingga kedalam struktur keluarga batih (keluaraga inti/nuclear family).
Adapun faktor-faktor penyebab yang berasal dari luar diantaranya:[12]
  1. Sebab-sebab yang berasa dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia.
Bencana gempa bumi dan gelombang pasang air laut yang disbeu Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara yang menelan korban jiwa ratusan ribu manusia pada akhir 2004 yang lalu telah membawa perubahan yang besar pada struktur sosial kemasyarakatan. Struktur keluarga menjadi berubah sebagai akibat banyaknya anggta keluarga yang hilang ditelan gelombang.


  1. Peperangan
Gejala peperangan yang terjadi telah mengubah struktur sosal budaya dari skala mikro ke skala makro. Irak, misalnya, sebagai dikawasan Timur Tengah diserang oleh Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Negara-negara sekutunya dengan tuduhan kepemilikan sejata pemusnahan massal dan seorang teroris. Setelah presiden saddam Husein berhasil digulingkan dan ditangkap. Kini irak mengalami perubahan di berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
  1. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
Sebagaimana yang dapat disaksikan pada diri anak-anak muda perkotaan saat ini, terlihat jelas bahwa system nilai dan norma bangsa telah bergeser sebagai akibat dari pengaruh globalsasi informasi. Televisi dengan tayangan-tayangannya yang berbau Barat telah mengubah gaya hidup generasi mudah perkotaan.
F.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jalannya Proses Perubahan
  1. Faktor-faktor yang mendorong jalannya proses perubahan
Didalam masyarakat dimana terjadi suatu proses perubahan, terdapat faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan yang terjadi. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:[13]
  1. Kontak dengan kebudayaan lain
Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion. Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebuadayaan dari individu kepada individu lain dan dari satu masyarakat kemasyarakat lain. Dengan proses tersebut manusia mampu untuk menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penenmuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diterusakn dan disebarkan pada masyarakat luas samapai umat manusia didunia dapat menikmati kegunaanya. Proses tersebut merupakan pendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan-kebudayaan masyarakat manusia.
  1. Sistem pendidikan formal yang maju
Pendidikan mengajarkan pada individu aneka macam kemampuan. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu pada manusia, terutama dalam memmbuka pikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berpikir secara obyektif, hal mana akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyaraktnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak.
  1. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju
Apabila sikap tersebut melembaga dalam masyarakat maka masyarakat akan merupakan mendorong bagi usaha-usaha penemuan-penemuan baru.
  1. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation) yang bukan merupakan delik.
  2. System terbuka lapisan masyarakat (open stratification)
System terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertical yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Dalam keadaan demikian, seseorang memungkinkan akan mengadakan identifikasi dengan warga-warga yang mempunyai status yang lebih tinggi. Identifikasi merupakan tingkah laku yang sedimikian rupa sehingga seseorang merasa berkedudukan sama dengan orang atau golongan lain yang dianggap lebih tinggi dengan harapan agar diperlakukan sama dengan golongan tersebut.
  1. Penduduk yang heterogen
Masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda, ras yang berbeda, ideology yang berbeda, dan seterusnya, mempermudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang megundang kegoncangan-kegoncangan. Keadaan demikian menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.


  1. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu
Ketidakpuasan yang berlangsung terlalu lama dalam sebuah masyarakat berkemungkinan besar akan mendatangkan revolusi.
  1. Orientasi ke masa depan
  2. Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar  memperbaiki hidupnya.
  1. Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya perubahan:[14]
  1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
Kehidupan yang terasaing merupakan sebuah masyarakt tidak mengetahui perkembangan-perkembangan apa yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri. Hal itu dapat menyebabkan bahwa para warga masyarakat terkengkung pola-pola pemikirannya oleh tradisi.
  1. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
Hal ini disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing dan tertutup atau mungkin karena lama ddijajah oleh masyarakat lain.
  1. Masyarakat yang sangat tradisional
Suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau serta anggapan bahwa tradisi secara mutlak tidak dapat diubah, mengghambat jalannya proses perubahan. Keadaan tersebut akan menjadi lebih parah apabila masyarakat yang bersangkutan dikuasi oleh golongan konservatif.
  1. Adanya kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat atau vested interests
Dalam setiap organisasi sosialyang mengenal sistem lapisan pasti akan ada sekelompok orang yang menikmati kedudukan perubahan-perubahan.
  1. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integritas kebudayaan
Memang harus diakui kalau tidak mungkin integrasi semua unsur suatu kebudayaan bersifat sempurna. Beberapa perkelompokan unsur-unsur tertentu memiliki drajat integritas tinggi. Maksudnya unsur-unsur luar dikhawatirkan akan mengoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-perubahan tertentu pada masyarakat.
  1. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup
Sikap yang demikian banyak dijumpai pada masyarkat-masyarakat yang dipernah dijajah oleh bangsa-bangsa Barat. Mereka sangat mencurigai sesuatu yang berasal dari barat, karena tidak pernah bisa melupakan penaglaman-pengalaman pahit selama penjajahan.
  1. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis
Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideology masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.
  1. Adat atau kebiasaan
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat didalam memenuhi segala kebutuhan pokoknya. Apabila kemdian ternyata pola-pola perilaku tersebut efektif lagi didalam memenuhi kebutuhan pokok, krisis akan muncul.
  1. Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki
G.    Dampak Perubahan Sosial
Suatu perubahan sosial berdampak pada terciptanya tatanan baru dalam masyarakat. Modernisasi sebagai gejala perubahan sosial memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat dalam tatanan baru. Ada dua dampak modernisasi dan globalisasi bagi masyarakat, yakni dampak positif dan negatif.[15]
1. Dampak positif, mengarah pada kemajuan dengan menuju terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Hal inilah yang dijadikan harapan masyarakat. Dengan adanaya kegunaan yang positif dari modernisasi maka masyarakat dapat mewujudkan ketepatan dalam hidupnya. Dampak positif perubahan sosial budaya yang terjadi akibat modernisasi dan globalisasi antara lain sebagai berikut.
a)      Adanya kemudahan dalam komunikasi, karena dengan globalisasi maka batas-batas antar-daerah menjadi hilang, seperti dengan maraknya fasilitas handphone yang sekarang ini bisa dengan mudah dijumpai di berbagai lapisan masyarakat.
b)      Kemajuan teknologi di berbagai bidang. Hal-hal positif yang berkaitan dengan teknologi sebaiknya diadopsi untuk kepentingan yang bersifat positif. Meskipun tidak bisa dipungkiri di samping dampak positif juga selalu disertai dengan dampak negatif.

2. Dampak negatif, mengarah pada kemunduran, ditandai dengan adanya tindak kriminalitas, konflik sosial, deviasi sosial, serta berbagai masalah sosial lainnya. Hal inilah yang menjadi titik jenuh dari perubahan sosial dalam masyarakat. Adapun dampak negatif dari perubahan sosial budaya yang terjadi akibat modernisasi dan globalisasi yang dapat dijumpai sekarang ini, di antaranya sebagai berikut.
a)      Bergesernya selera orang ketika dulunya biasa makan nasi, sekarang ini lebih suka makanan siap saji (fast food), seperti Mc. Donald, KFC, Texas, dan lain-lain. Orang tidak lagi memakan makanan demi memenuhi kebutuhan rasa lapar yang dialami, tetapi sekarang ini lebih didominasi oleh adanya rasa gengsi atau prestise yang tinggi apabila makan di restoran terkenal yang merupakan produk dari luar negeri. Hal ini ditengarai juga merupakan dampak dari iklan yang sering ditayangkan di berbagai media, bahwa kalau orang ingin modern maka harus mengikuti gaya hidup modern termasuk dalam hal pola makan yang diakibatkan pada cara-cara dan pola-pola Barat. Ini semua adalah dampak dari adanya globalisasi dan modernisasi di segala bidang.

b)       Dalam hal pakaian, sekarang ini banyak orang yang kemudian cenderung meniru cara berpakaian ala Barat.

c)      Dalam hal bergaul pun, sekarang ini telah banyak pergaulan bebas yang diadopsi dari cara pergaulan di luar negeri. Seks bebas sekarang ini sudah menjamur. Orang tidak malu lagi bila hidup bersama tanpa nikah. Dalam hal ini bisa dikaji bahwa budaya malu telah bergeser akibat hanya mengejar hedonisme (kesenangan duniawi) sehingga kontrol sosial pun juga sekarang ini sudah sulit untuk ditemui.
d)      Dalam hal lingkungan, sekarang ini banyak sekali limbah yag mencemari lingkungan akibat perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Seperti kasus Buyat, dimana warga banyak yang menjadi korban terkena penyakit minamata akibat limbah Mercury yang dihasilkan dari limbah PT Newmont Minahasa Raya yang selama ini dialirkan ke Teluk Buyat telah mencemari ikan dan air di teluk tersebut. Sementara itu warga di sana menggantungkan kehidupan pada hasil ikan tangkapan nelayan serta dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas juga memakan ikan yang telah tersemar tersebut.

e)      Banyak pulau-pulau di Indonesia yang digadaikan kepada perusahaan/negara asing. Sebagai contoh, Pulau Bintan telah dikontrakkan untuk dikelola Singapura selama 80 tahun. Sampai saat ini baru berjalan 15 tahun. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kekayaan Indonesia yang sebenarnya bisa dinikmati banyak orang untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat telah terampas oleh dominasi asing begitu saja. Tentu saja ini tidak terlepas dari kurangnya kontrol dari masyarakat atas kebijakan pemerintah daerah setempat yang hanya mencari keuntungan semata. Demikian pula yang terjadi dengan perusahaan Newmont. Selama ini penghasilan besar masuk ke tangan asing juga.

Akibat perubahan sosial dan budaya yang terjadi tidak jarang berdampak beberapa gejala sosial lainnya yang bisa diamati, misalnya sebagai berikut.
a)      Anomie, yaitu keadaan dimana seseorang sudah tidak mempunyai pegangan apapun dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai yang ada sudah mulai luntur bahkan hilang sama sekali. Sebagai contoh, maraknya pornografi dan pornoaksi serta menculnya berbagai kasus bunuh diri pada anak dan remaja akhirakhir ini.

b)      Culture shock atau kegoncangan budaya, yaitu keadaan dimana seseorang atau masyarakat tidak siap menerima kebudayaan baru yang sifatnya asing yang tiba-tiba datang. Misalnya, ketika terdapat orang dari desa melakukan urbanisasi ke kota, maka banyak hal baru yang membuatnya terkaget-kaget atau terperangah melihat kehidupan kota dengan berbagai budaya yang berbeda, baik dari segi berpakaian, berbahasa, bekerja, dan sebagainya. Apabila hal ini tidak diantisipasi sebelumnya, maka seseorang atau masyarakat tersebut akan mengalami kegoncangan jiwa atau mental dalam menyikapi pola hidup yang berbeda.

c)      Culture lag atau ketertinggalan budaya, kondisi dimana salah satu komponen budaya tidak bisa menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan komponen budaya lainnya yang sudah mengalami perubahan terlebih dahulu. Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa merokok di sembarang tempat, ketika ia pergi ke Jakarta dimana terdapat aturan dari Pemda untuk tidak boleh merokok di tempat umum, dan apabila melanggar maka akan dikenai denda atau hukuman. Ketika orang tersebut belum bisa mengikutinya karena belum terbiasa atau beradaptasi di Jakarta, maka dia akan terkena sanksi peraturan tersebut.

Dengan demikian, sudah seharusnyalah sebagai bangsa yang mempunyai tradisi ketimuran, kita tetap mempertahankan nilai-nilai lokal, seperti gotongroyong, keramahan, kesopanan, keagamaan, yang menunjang dalam pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari, meskipun harus dengan tegas menghadapi berbagai godaan yang terus saja menerpa, baik dari modernisasi, westernisasi, liberalisasi, dan lain sebagainya.















BAB III
KESIMPULAN

Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Setiap masyarakat selama hidupnya, pasti mengalami perubahan. Perubahan bagi masyarakat yang bersangkutan maupun bagi orang luar yang menelaahnya, dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang cocok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga yang berjalan cepat.
Perubahan-perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, organisasi, susunan, lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan selanjutnya. Karean luasnya bidang diamana mungkin terjadi perubahan-perubahan tersebut, maka bilamana seseorang hendak membuat uraian tentang perubahan-perubahan dalam masyarakat, perlulah terlebih dahulu ditentukan secara tegas perubahan mngenai hal apa yang dimaksudkan.
Dengan diakuinya dinamika sebagai inti jiwa masyarakat, maka banyak sarjana sosiologi modern yang mencurahkan perhatiannya pada masalah-masalah perubahan sosial dan kebudayaan dalam masyarakat.
Terdapat dampak positif dan negatif adanya perubahan sosial. Dampak positif, mengarah pada kemajuan dengan menuju terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Hal inilah yang dijadikan harapan masyarakat. Dengan adanaya kegunaan yang positif dari modernisasi maka masyarakat dapat mewujudkan ketepatan dalam hidupnya.
 Dampak negatif, mengarah pada kemunduran, ditandai dengan adanya tindak kriminalitas, konflik sosial, deviasi sosial, serta berbagai masalah sosial lainnya. Hal inilah yang menjadi titik jenuh dari perubahan sosial dalam masyarakat
Perubahan sosial pasti terjadi dan setiap orang tidak bisa menghindar dari perbuatan sosial, namun kita harus bisa menghadapinya dengan cara membatasi diri kita dan memfilterisasi pengaruh-pengaruh kebudayaan yang kurang baik dari luar.

DAFTAR PUSTAKA


M Setidi, Elly dan Kolip, Usman,, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya, (Jakarta: Kencana, 2011).

Sunarto, Kamanto,  Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004).

Dwi Narko,  J,  dan Suyanto, Bagong, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana, 2007).

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003).

Dampak Perubahan Sosial, exbuk.blogspot.com/2012/02/dampak-perubahan-sosial-modernisasi.html, diakses tgl 16 Mei 2012.




[1] Soerjono, Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 303.
[2] Elly, M Setidi dan Usman, Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya, (Jakarta: Kencana, 2011), h. 610.
[3] ibid
[4] ibid
[5] Kamanto, Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), h. 203-205
[6] J, Dwi Narko dan Bagong, Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 365-366
[7] Soerjono, Soekanto, Op, cit, h. 311
[8] Soerjono, Soekanto, Op, cit, h. 311-312
[9]Elly, M Setidi dan Usman, Kolip, Op,cit, h. 621
[10] Kamanto, Sunarto, Op,cit, h. 207-208
[11] Soerjono, Soekamto, Op,cit, h. 317
[12] Elly, M Setidi dan Usman, Kolip, Op,cit, h. 624
[13] Soerjono, Soekamto, Op,cit, h. 324
[14] Elly, M Setidi dan Usman, Kolip, Op,cit, h. 329
[15] Dampak Perubahan Sosial, exbuk.blogspot.com/2012/02/dampak-perubahan-sosial-modernisasi.html, diakses tgl 16 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar